Translate

Rabu, 27 Agustus 2014

Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu?


sub Judul: Bagaimana AirAsia ( Akan ) Mengubah Hidupku?

NEPAL.NEPAL.NEPAL!
Cerita bermula tatkala ada seorang teman aktivis yakni @fanbul ( < itu akun twitternya) yang sudah berkeliling Asia, berbagi 1 foto tentang promo AirAsia ke Kathmandu, Nepal . Jadwal penerbangan 1 Oktober 2014 s.d 30 April 2015. Tertarik? Sangat! Hanya, sayangnya, itu terjadi saat saya sudah resign dari perusahaan dan saat ini sedang merintis kembali, mengisi kembali pundi-pundi rejeki. Maka saya skip-lah itu.




Hingga, 3 hari lalu, saat saya baca-baca timeline @TrinityTraveler di twitter itulah, ada informasi sayembara dengan salah satu hadiahnya ya, TRIP TO NEPAL. Hip, Hip, hurre. Senang bukan kepalang.

PESIMISTIS MELANDA

Link terkait sayembara pun saya buka. Dan, walah. Pesimis, skeptis, dan hal-hal berbau minder langsung menjalar disekujur tubuh. Bagaimana tidak, semua artikel yang ikut sayembara ini adalah orang-orang yang telah mencicipi indahnya promo AirAsia. Nah, saya?! Iya, saya…belum sama sekali.

Loh, kemudian apa yang membuat saya kembali percaya diri dan mulai menulis artikel ini? Nekad Traveler wanna be, karena bila saya menang, itulah moment gumilang pertama saya bersama AirAsia dan sudah barang tentu dan jelas sekali bahwa AirAsia mengubah hidup saya!

AirAsia Mengubah Hidup Saya, dengan sub judul nantinya diblog saya: Perdana! Ke Luar Negeri bersama AirAsia. Begitulah kira-kira judul yang saya persiapkan untuk blog saya berikutnya di: http://sharerio.blogspot.com/

Ngarep.com-lah pastinya. Hahaaa.

Sekilas tentang traveling domestik yang sudah saya lalui:

Pertama kali menyukai dan memulai traveling domestik, Nepal tentu target operasional list untuk kategori eksotis traveling di luar negeri. Mengapa Nepal? www.lonelyplanet.com, website rekomendasi mbak Trinity dari blognya: http://naked-traveler.com/ sudah lengkap bahas dan menampilkan gambaran bagaimana eksotisnya Nepal.

Tahun berlalu. Sumbawa, Lombok, Bali, Karimun Jawa, dan sebagian besar wisata alam di daratan pulau Jawa terlampui. Mulai dari Bromo, Pasuruan. Mountain climbing hingga puncak Welirang, Jawa Timur. Rafting di Probolinggo. Juga, pantai-pantai di gunung Kidul, Jogjakarta seperti: Sepanjang, Krakal, Sundak. Tak ketinggalan pula, di Banyuwangi, seperti: pantai Pulau Merah, G-Land atau pantai Plengkung kalau orang lokal bilang, penuh kenangan dan petualangan selama perjalanan nekad  melintasi Taman Nasional Alas Purwo, dengan berjalan kaki! 

No Pic = Hoax. Ini beberapa foto traveling domestik saya:

@GiliTrawangan, Lombok bersama sahabat, Tyaz


 
@Probolinggo, Noars, Rafting


@Bromo, Pasuruan

menapaki Alas Purwo, menuju pantai G-Land

@KarimunJawa

Beberapa diantara traveling domestic saya sebenarnya menggunakan moda transportasi pesawat. Tapi, tak satu pun menggunakan promo free seats dari AirAsia Indonesia. Ketidaktahuan saya dan pemasrahan diri karena mendapatkan gratisan tiket, modal badan doang-lah, yang membuat saya belum mencicipi indahnya promo AirAsia.

Jadi begini…lho

Keuntungan memilih saya sebagai pemenang?

Euforia saya yang nantinya pasti akan berlebihan namun ciamik dalam mengulas promo AirAsia dalam blog: http://sharerio.blogspot.com/ dan di akun twitter saya di @justriorio
FYI, saya juga mulai daftar menjadi anggota di www.airasia.com agar selalu update informasi terkait promo free seats yang kerap diadakan.
Mengintip promo freeseats terbaru:




Bagaimana AirAsia ( akan ) Mengubah Hidup saya?

  1.  Saya akhirnya bisa ke luar negeri, pertama kali dalam hidup saya
  2. Saya mempunyai bahan untuk menulis dalam blog saya tentang perjalanan ke Nepal
  3. Saya secara otomatis menjadi apa yang saya inginkan selama ini, menulis sekaligus melakukan traveling
  4. Dan, uang tunainya, akan saya pergunakan untuk tambahan modal coffee shop impian
  5. Dan, akhirnya saya kembali bisa mengisi pundi-pundi rejeki dari passion saya, yaitu: menulis, traveling, dan biji kopi!
       NEPAL! Tunggu aku. Dan, lalu mulai browsing:
http://www.lonelyplanet.com/nepal/pokhara-1327551/things-to-do/top-things-to-do-in-pokhara

       Maka dukung saya ya. Pilihlah saya sebagai pemenang perjalanan ke Nepal *senyum lebar*
Lalu ikon malaikat.

 
coffee shop impian ( lok. StilRod cafe, Surabaya )
Dengan tagline yang pas:
Now Everyone Can Fly, termasuk saya, iya, sayaaa.

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti:
Kompetisi blog Air Asia berhadiah ke Nepal gratis!

link terkait:
http://naked-traveler.com/2014/07/01/adv-kompetisi-blog-air-asia-berhadiah-ke-nepal-gratis/
https://www.facebook.com/notes/airasiaindonesia/kompetisi-blog-10-tahun-airasia-indonesia/










Jumat, 22 Agustus 2014

Puisi bunda Helvy: KANGEN

KANGEN

Telah kutuliskan puisi-puisi itu
sejak usiamu 26 tahun
ketika pertama kali kita bertukar senyum
pada jarak pandang yang begitu dekat

Kau ingat,
saat kubisikkan mungkin aku tak perlu matahari,
bulan atau bintang lagi
cukup kau, cahaya yang Dia kirimkan untukku
Ah, apa kau masih menyimpan puisi-puisi itu?
Belasan tahun kemudian
aku masih menikmati
mengirimimu puisi
hingga hari ini
aku pun menjelma hujan yang enggan berhenti
di berandamu
bersama angin yang selalu kasmaran
Kau tahu, aku masih saja menatapmu
dengan mataku yang dulu
lelaki sederhana berhati samudera
yang selalu membawaku berlabuh padaNya
Pada berkali masa, kau pernah berkata,
“Aku tahu, Aku hanya ingin menikahi jiwamu selalu”

Helvy Tiana Rosa, Depok, 2008

link: http://sastrahelvy.com/2014/06/22/musikalisasi-puisi-helvy-kangen

Rabu, 20 Agustus 2014

Aku, Ruteku, dan Kereta Api #UntukKeretaku


Aku, Ruteku, dan Kereta Api

kereta api Sancaka Pagi @sta.SurabayaGubeng

Coba aku ingat?! Hhmm, kapan dan kemana aku pertama kali menggunakan moda transportasi kereta.
Jakarta! Waktu itu masih duduk dibangku SMA kelas 1, berarti tahun 1997. Juli, pastinya. Yes, aku ingat. Karena itu adalah acara pramuka, yaitu RAIMUNA yang diadakan di Cibubur. Seluruh kabupaten mengirimkan perwakilannya, termasuk kabupaten Bangkalan, salah satu kabupaten di pulau garam, Madura. Dan, yup,  untuk seluruh perwakilan provinsi Jawa Timur, pemerintah daerah memilih menggunakan kereta api dengan menyewa sekian banyak gerbong kelas ekonomi. Entah, aku tidak tahu jumlah pastinya dan entah nama keretanya apa.
@sta.Jogjakarta

Singkat cerita, selama masa kuliah beberapa kali juga aku memilih kereta api untuk perjalanan liburanku, lagi-lagi ke Jakarta, dan selang sekian waktu, saat berlibur ke Bogor pun, aku memilih naik kereta, meski harus turun untuk ganti KRL.
Tak cukup sampai disitu, saat memasuki dunia kerja, manakala bosan melanda dan ingin sejenak menepi, melancong, aku kembali memilih moda transportasi kereta api untuk mengantarkanku menuju kota kembang, Bandung dan kota seni, Jogjakarta. Oh, ya, satu lagi, waktu itu, rekan kerja menikah di Bangil, Jawa Timur, kebetulan memang dia rumahnya ya dideretan perumahan PT. KAI.  Bapaknya kala itu, pegawai aktif PT. KAI. Seberang rel ya, sudah tampak rumahnya yang khas berasitektur jaman kolonial Belanda.

@sta.Semarang

Dan berlanjut hingga sekarang, manakala arah perjalananku bolak balik menuju kota seni, Jogjakarta dan kota muasal tarian Gandrung, Banyuwangi, yups, aku setia dengan kereta api! Selama disitu ada rel, disitu pulalah aku akan duduk didekat jendela menikmati pemandangan alam yang ditawarkan. Areal persawahan, hijau. Cerahnya langit, biru. Perkebunan kopi, karet, coklat. Lalu, tentunya deretan pegunungan yang menakjubkan. Priceless!
Tentu tak lupa aku mengucapkan terimakasih:
  1. Suasana stasiun yang lebih rapi, steril karena hanya penumpang yang ada didalamnya. Lebih nyaman.
  2. Pengadaan AC untuk kelas ekonomi dan jumlah penumpang yang sudah sesuai dengan banyaknya tempat duduk.
  3. Selama aku menggunakan layanan jasa PT. KAI, tak pernah aku mengalami keterlambatan, selalu tepat waktu.
  4. Penggunaan KTP untuk validasi penumpang.
  5. Kemudahan reservasi tiket dengan system OnLine.

Teruslah lebih baik, dan lebih baik lagi dalam pelayanan. Senyum dari aku untuk seluruh karyawan PT. KAI.

dalam rangka mengikuti lomba tulis tentang kereta dari PT. KAI @KAI121

Senin, 18 Agustus 2014

Management Keuangan

dicopy dari: http://manajemen.bisnis.com/read/20140511/55/226852/sehat-finansial-ini-tips-mengelola-keuangan-pribadi-

Berikut ada beberapa tips dari pakar perencana keuangan, Ligwina Hananto. Apa saja tipsnya? Ternyata hanya dua saja untuk seseorang dalam mengelola keuangan yang sehat.
Pertama, yakni harus tahu cash flow—aliran uang. Jalur keluar masuknya uang untuk apa dan ke mana saja harus selalu diketahui apabila seseorang ingin finansialnya sehat.
Kita harus tahu jumlah penghasilan/pemasukan yakni dari gaji, hasil bisnis, sewa properti, dividen saham, kupon obligasi, bunga deposito dan lain sebagainya. Selain itu, pengeluaran pun penting diperhatikan yang terdiri dari cicilan hutang maximal 30% dari pemasukan.
Seperti, membayar premi asuransi, keperluan rumah tangga, transportasi, anak, keluarga, pekerja, kesehatan yang seharusnya 20-40% pemakaiannya dari pemasukan. Terakhir, pengeluaran pribadi seperti membeli tas, salon, hangout bersama teman-teman, dan liburan yang bisa ditakar hanya 20% dari penghasilan.
Kedua, mengetahui tujuan. Dijelaskan, apabila seseorang ingin pergi ke Tarakan. Kita harus benar-benar memahami tujuannya. Lebih efisien mana dan sesuaikah dengan kemampuan, menggunakan pesawat atau bus, atau bawa mobil sendiri.
“Kita harus paham betul judulnya apa, tujuannya apa, jumlahnya berapa, resikonya apa, untungnya apa. Jadi, semua harus dipelajari dengan baik,” jelas Wina, panggilan akrabnya.
Untuk itu, Anda juga harus mengetahui nafsu diri kita sendiri dan mengontrol segala sesuatunya dengan memilih mana yang harus diprioritaskan dan mana yang tidak penting. Begitu juga mengetahui kemampuan kita dalam memenuhi kebutuhan tersier yang akan membuat kita bisa menahan nafsu mengeluarkan uang untuk hal yang tidak penting.

Minggu, 17 Agustus 2014

Kuliner di Bangkalan: MATUS



tampak depan resto MATUS

Kuliner di Bangkalan, Madura, edisi resto seafood MATUS

Lokasi: arah ke Mercusuar, Sembilangan, Bangkalan

Hari minggu lalu, kembali kami sekeluarga ada acara makan-makan. Adik dan Mam merayakan ulang tahun mereka.

Karena, Bangkalan tak hanya menu bebek, kami memutuskan untuk memilih menu seafood. Dan, buat keluargaku, resto seafood itu ya, MATUS ini. Almarhumah babe, panggilan saya ke ayah sangat menyukai masakan resto ini. Meski, saya merasa, bahwa kelezatannya agak berkurang daripada yang dulu-dulu.

Mungkin tukang masaknya ganti, mungkin.


samping resto MATUS dibuat untuk lesehan

Tak bisa dikatakan sering sih, tapi pemilik resto sudah mengenal cukup baik kedua orang tua saya. Jadinya, service mereka excellent. Mam tinggal telepon, menyebutkan beberapa menu dan menginformasikan bahwa kami kesana sekitar pukul 12.00 WIB, pas jamuan untuk makan siang.

Berikut gambar dari menu yang dipilih oleh Mam.


gurame bakar

kepiting asam manis

udang goreng tepung

sambal mangga

Oh, ya. Ikan, kepiting, cumi-cumi, dan udangnya fresh. Sayang, saya lupa memfoto cumi-cumi goreng tepungnya. Tapi tampilannya sama saja kok dengan menu goreng tepung kebanyakan.

Sambal mangganya, lumayanlah.

Harganya? Standart seperti warung atau resto seafood sederhana yang lain, 25k-50k.

Tempatnya cukup nyaman, teduh untuk daerah dekat tepi pantai. Parkirnya juga sangat luas. Halaman depan resto cukup memadai untuk parkir belasan mobil.

Catatan lainnya, bila mampir ke resto ini, saya sarankan juga singgah di objek wisata Mercusuar. Tak jauh dari resto, hanya sekitar 5 - 10 menitan.

Tentang objek wisata Mercusuar, akan dibahas berikutnya.

Rabu, 06 Agustus 2014

Family Trip si Traveller Tunggal eps. Jogja

@malioboro

Minggu lalu, keluarga memutuskan untuk menyambung silahturahmi yang puluhan tahun terputus dengan keluarga asal muasal keluargaku yang di Madura, yaitu mudik kembali ke tanah leluhur, Jogjakarta.

Woho, ada 3 keluarga dengan 2 mobil dengan little kids kids... :D
Awalnya, aku menolak. Jujur dan blak-blakan aku keberatan, karena pasti membosankan, bakalan bosan setengah hidup. Karena tak leluasa dengan jadwal dan keinginan diri untuk ekplorasi perjalanan itu.

Tapi, aku pikir-pikir lagi, ntar mereka tersesat di jalan. Sedangkan yang tahu, rumah nenek moyang, aku. Yang tahu jalanan Jogja, aku.
Jadilah aku masuk dalam rombongan keluarga besar. Si Traveller tunggal harus melunakkan ego, melebarkan lapang dada dan setipenya, demi kenyamanan semua.

Meski, si Traveller tunggal sempat cembetut saat terperangkap dalam lautan manusia di candi Borobudur, hingga memutuskan keluar duluan dan lalu mamam Olive Chicken, tanpa sempat menaiki tangganya sekali pun. Hehehee. Dulu, sudah pernah sih, dengan kondisi menikmati Borobudur lebih nyaman.
 
@parangtritis

@borobudur

 
@olivechicken

Berikut kronologis perjalanan darat pertama si Traveller tunggal dengan menggunakan mobil pribadi:

1. Berangkat dari Bangkalan, Madura 08.00 PM

2. Kejebak macet 3 jam di ring road selatan Nganjuk menuju hutan Saradan

3. Harusnya perjalanan normal hanya 8 jam, molor hingga belasan jam...dan lalu memasuki halaman si mbah di Bantul pukul 12.00 AM... amazing isn it.

4. Istirahat sambung silahturahmi lalu lanjut jalan-jalan malam di Malioboro

5. Keesokan hari, sekitar 09.30 AM otw pantai Parangtritis lanjut Borobudur

6. Perjalanan ke Borobodur macet total saat memasuki aksesnya, sempat tegang dan berakhir menggunakan jasa calo parkir mobil, demi tidak terlambat memasuki candi Borobudur di jam-jam terakhir loket ditutup

7. Balik rumah si Mbah sekitar pukul 11.00 PM karena masih tambah gas dan cek keempat ban mobil plus ban cadangan

8. Keesokannya, setelah ramah tamah dan pamit pulang, kami memutuskan singgah dulu di posyandu 2 Dagadu aseli di alun-alun LOR. Lalu cus, candi Prambanan

9. Nah, di candi Prambanan ini meski ramai, kami masih bisa menikmati dengan leluasa, balutan masa lalu berupa bebatuan yang tersusun anggun menjulang keatas. 
Dan, si Traveller Tunggal terkesima dengan candi paling gagah, paling gede diantara yang lain, candi SIWA.

 
@prambanan

luv #jogja#prambanan#parangtritis#borobudur